Kamis

SELALU ADA HARAPAN





Hadi Wahono


Kadang-kadang kita merasa lelah, jenu. merasa tak berdaya, merasa segala-galanya serbasalah, tak memiliki kemampuan untuk melakukan apapun. Mungkin, selama ini kita seolah-olah mengalami situasi dimana apapun yang kita lakukan serba salah, serba tak menghasilkan apapun, sehingga kita merasa tak mampu untuk melakukan apapun juga. Kita merasa diri kita sebagai orang gagal, sementara orang-orang disekitar kita nampaknya selalu berhasil, jarang (untuk tidak mengatakan tidak pernah) mengalami kegagalan, tanpa masalah, pokoknya segalanya seolah-olah berlangsung lancar. Hanya hidup kita sendiri yang bukan saja tersendat-sendat, tetapi tampaknya sama sekali tak ada kemajuan apapun. Saya kira perasaan sebagaimana saya gambarkan diatas sering, atau paling tidak pernah dialami mungkin sekali atau dua kali atau berapa kali dalam hidup kita.
Dalam banyak kasus, perasaan sebagaimana digambarkan diatas muncul sebagai akibat kesalahan kita memandang keberhasilan orang lain, orang-orang yang saat ini kita pandang sebagai orang yang berhasil. Kita sering memandang banyak orang yang berhasil, yang hidupnya begitu menarik, begitu penuh dengan kebahagiaan dan keberhasilan yang rasa-rasanya tak pernah mengalami kegagalan dari kondisinya saat ini. Kita tak pernah bertanya, bagaimana usaha orang tersebut untuk berhasil, berapa lama dia bisa menikmati keberhasilannya, dan sebagainya, seolah-olah orang tersebut berhasil berkat usahanya dalam waktu semalam, sebagaimana orang yang menemukan lampu aladin, sekali gosok segala yang diminta akan ada. Kita sering tak sadar, bahwa keberhasilan seseorang berkat usahanya yang keras, yang pantang menyerah, yang dilakukannya bertahun-tahaun. Bahkan seringkali mereka harus mengalami masa jatuh bangun dalam waktu lama, tetapi berkat kerja keras yang pantang menyerah, mereka akhirnya berhasil.
Dari gambaran ini tampak, keberhasilan hanya bisa kita raih kalau kita mau bekerja keras, mau bersusah-susah, sebagaimana pantun lama:
berakit-rakit kehulu,
berenang-renang ketepian,
bersakit-sakit dahulu,
bersenang-senang kemudian.
Pantun lama tersebut mengajarkan pada kita, bahwa untuk dapat berhasil, untuk dapat bersenang-senang kemudian, maka kita dituntut untuk bersedia bersakit-sakit dahulu. Tanpa bersakit-sakit dahulu, tak akan ada hari untuk bersenang-senang kemudian.
Masalahnya, apa yang membuat seseorang tahan untuk bersakit-sakit dahulu hingga bertahun-tahun, atau berusaha keras pantang menyerah selama bertahun-tahun, walaupun semula mengalami banyak kegagalan dan kesulitan? Jawabannya adalah mimpi dan harapan.
Mereka yang berhasil adalah orang yang mempunyai mimpi, mempunyai cita-cita, atau mempunyai keinginan seperti apa hidup saya dimasa depan. Tanpa mimpi, kita tidak akan pernah tahu kemana kita akan melangkah, akibatnya kita selalu merasa salah langkah, serba salah, dan berganti-ganti arah, hingga tak pernah mencapai tujuan. Namun demikian, hanya dengan mimpi, kita seringkali tak tahan menghadapi ujian dalam merealisasi mimpi kita. Akibatnya, mimpi kita terus berganti-ganti, seperti orang tidur yang mengalami banyak mimpi hingga ketika bangun dia sudah tidak tahu tadi bermimpi apa, karena begitu banyaknya impian yang dialaminya. Padahal, orang yang berhasil hidupnya selalu diarahkan pada satu mimpi besarnya. Setiap langkahnya, setiap usahanya, adalah dalam rangka merealisir mimpi besar dalam hidupnya. Orang-orang demikian adalah orang yang selain mempunyai mimpi, juga selalu dipenuhi harapan akan kemungkinan untuk meraih mimpinya. Harapanlah yang membuat seseorang akan tetap tangguh dan terus memandang kedepan untuk meraih mimpi, meskipun banyak halangan menghadang dan seringkali kegagalan demi kegagalan menimpanya. Harapanlah yang menghidupi kita, yang memungkinkan kita tetap mampu menghadapi kehidupan yang bagaimanapun sulitnya, dan harapan pula yang membuat kita akan berhasil meraih mimpi kita.

Lord, even if it may be dark all around me,
let me focus on visions of good things,
for it is by faith that miracles shall come to be.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar