Senin

PRASANGKA BURUK: Penghambat Keberhasilan

Hadi Wahono

Ketika kita bertemu dengan orang yang baru kita kenal, apalagi pertemuan tersebut bukan sekedar pertemuan tanpa tujuan, tetapi merupakan pertemuan yang mempunyai tujuan tertentu, misalnya bisnis, walaupun sebelumnya belum mengenal sama sekali orang tersebut, seringkali kita sudah mempunyai penilaian tertentu atas orang tersebut yang semata-mata bersifat prasangka. Prasangka demikian biasanya didasarkan pada stereotype atas bangsa, ras, suku, agama, warna kulit, gender, dan sebagainya. Kita seringkali telah mempunyai pandangan yang kita pegang, bahwa orang dari bangsa tertentu adalah demikian, orang dari suku tertentu berwatak demikian, seorang wanita berwatak demikian, dan sebagainya.
Sebagai contoh (sekedar contoh asal-asalan, yang tidak ada hubungannya dengan pikiran dan pengalaman penulis), ketika kita akan mengadakan hubungan bisnis dengan orang yang baru kita kenal, misalnya orang tersebut orang Padang, sementara kita dari suku Jawa, kita sering sudah berprasangka bahwa orang tersebut akan melakukan tindakan licik dalam bisnis dengan kita, karena itu kita akan berusaha menghindarinya. Pandangan bahwa orang Padang licik, mungkin kita dapatkan dari pengalaman, dimana kita pernah ditipu oleh orang Padang. Dari pengalaman sekali tersebut, kita memang terbiasa untuk menggeneralisir, sehingga menganggap orang Padang licik. Kita lupa bahwa orang Jawa tidak semuanya baik, bahkan mungkin lebih banyak jumlah orang Jawa yang licik dibandingkan dengan orang Padang. Kita lupa, bahwa diantara orang Padang banyak orang-orang yang jujur, yang mentaati janji dan kesepakatan, yang berkawan dengan tulus, dan sebagainya, sementara diantara orang Jawa banyak yang menjadi maling, perampok, penipu, koruptor, dan sebagainya. Kita tidak bisa menilai orang berdasarkan stereotype yang sudah kita bentuk sendiri atau terbentuk sebagai hasil sosialisasi kelompok yang didasarkan atas bangsa, ras, suku, agama, gender, dan sebagainya, karena bangsa, ras, suku, agama, maupun gender tidak berkorelasi dengan watak dan kepribadian seseorang.
Akibat kesalahan pandangan demikian, kita seringkali menutup diri dengan orang-orang dari bangsa tertentu, atau dari ras tertentu, atau dari suku tertentu, atau dari orang yang beragama lain dengan agama yang kita anut. Padahal, dengan menutup diri dari orang lain berdasarkan prasangka buruk yang didasarkan pada stereotype yang sudah kita bentuk atau terbentuk dalam pikiran kita, sesungguhnya kita juga menutup banyak kesempatan untuk maju. Banyak kesempatan akan hilang jika kita menutup diri dengan orang-orang dari golongan tertentu atau yang berbeda dengan diri kita, sementara prasangka kita besar kemungkinannya salah. Akibatnya, kita tidak bisa berhubungan dengan baik dengan orang tersebut, kita tidak dapat merealisir rencana bisnis kita hanya karena kebetulan yang kita temui adalah orang yang bangsa, ras, suku atau agamanya berbeda dengan kita.
Tentu saja, kadang-kadang kita menemui orang yang sesuai dengan stereotype yang sudah kita bentuk. Pengalaman demikian akan menguatkan prasangka kita. Anehnya, ketika kita menemui orang yang licik, yang jahat, tetapi mempunyai kesamaan dengan kita dalam hal bangsa, ras, suku, agama, warna kulit, dan sebagainya, kita tidak membuat stereotype (khususnya dalam bentuknya yang buruk). Kalau kita menganggap golongan kita baik (hampir selalu demikian), maka ketika kita menemui orang yang segolongan dengan kita yang tidak baik, biasanya kita akan mengatakan bahwa orang itu merupakan perkecualian.
Keberhasilan kita hampir selalu ditentukan oleh luasnya hubungan kita. Karena itu, ketika kita menutup diri untuk berhubungan dengan orang-orang yang bangsa, ras, suku, agama, maupun warna kulitnya berbeda dengan kita, kita sesungguhnya telah menutup jalan kita sendiri. Keberhasilan menuntut kesediaan kita untuk sungguh-sungguh membuka pikiran kita, menghilangkan batas-batas yang kita buat sendiri, yang sebetulnya tidak ada. Dengan kata lain, kita hanya bisa berhasil, dalam bidang apapun, jika kita mampu berhubungan dengan orang lain dari bangsa, ras, suku, agama, gender, dan sebagainya tanpa prasangka yang didasarkan atas stereotype baik yang terbentuk dalam kelompok kita maupun yang kita bentuk sendiri. Tentu saja, hal ini tidak berarti kita melepaskan sikap penghati-hati yang wajar terhadap orang yang baru saja kita kenal, tetapi sikap penghati-hati yang tidak didasarkan pada stereotype atas golongan orang, tetapi sikap penghati-hati yang wajar yang diterapkan kepada orang yang baru kita kenal dari golongan manapun, termasuk dari orang yang sebangsa, sesuku, seagama dengan kita. Bahkan, cara kita memandang orang berdasarkan stereotype yang telah kita bentuk sendiri seringkali malah mencelakakan kita, karena kita akan kehilangan penghati-hati yang wajar atas orang yang baru saja kita kenal, hanya karena dia sebangsa, sesuku, seagama dengan kita.
Setiap manusia adalah unik, tidak ada manusia yang sama persis, walaupun mereka sebangsa, satu ras, sesuku, dan seagama. Kita hanya bisa menilai orang berdasarkan pengalaman dengan orang tersebut, dan penilaian ini tidak dapat kita generalisir. Namun demikian, kita juga tidak bisa begitu saja menilai orang hanya dengan melihat masa lalunya yang jauh, karena setiap orang bisa (bahkan pasti) berubah. Seseorang yang pada masa mudanya dikenal sebagai pencuri, belum tentu pada masa tuanya tetap mempunyai watak pencuri, bahkan bisa jadi sebaliknya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar