Senin

SALAH MEMILIH PASANGAN


Hadi Wahono




Pada jaman modern ini, berpacaran merupakan hal biasa, hal yang wajar-wajar saja, bahkan sebagian besar orang tua menyarankan anak mereka agar mereka berpacaran. Salah satu alasan perlunya berpacaran sebelum memasuki masa perkawinan adalah agar mereka dapat mencari pasangan yang cocok, yang sesuai dengan keinginan atau ideal type mereka. Dengan berpacaran, kita menganggap diri kita atau anak kita akan bisa mengetahui calon pasangannya sebelum mereka memasuki jenjang perkawinan. Harapannya adalah ketika besok mereka atau kita telah memasuki jenjang perkawinan, kita telah mengenal betul pasangan kita, sehingga tidak terjadi permasalahan akibat keterkejutan atas sifat, sikap, dan tingkah laku pasangankita. Dengan berpacaran, kita telah dapat menentukan apakah kita atau anak kita telah merasa cocok dengan pacarnya atau tidak, kalau cocok bisa dilanjutkan kejenjang perkainan, tetapi kalau merasa tidak cocok bisa segera putus sebelum terlanjur memasuki jenjang perkawinan. Perceraian pada masa perkawinan akan membawa dampak negative yang luar biasa, bukan saja bagi pasangan suami isteri tersebut, tetapi juga, dan akibat yang terburuk adalah, pada anak-anak mereka. Sementara itu, putus selama masa pacaran tidak akan menimbulkan dampak yang besar, paling banter merasa sedih karena patah hati untuk beberapa lama, tetapi kemudian akan segera pulih kembali.

Ketika pasangan yang berpacaran telah merasa c0cok, dan orang tua juga menyetujuinya, biasanya pasangan tersebut akan memasuki jenjang perkawinan. Pada tahun pertama atau bisa juga hingga tahun kedua dan mungkin juga hingga tahun ketiga (tetapi biasanya hanya hingga tahun pertama atau bahkan semester pertama), pasangan suami isteri (yang relative) baru tersebut masih berhubungan dengan mesra, rumah tangga mereka berlangsung damai dan menyenangkan. Mungkin kalau mereka ditanya atau diminta untuk menggambarkan rumah tangga mereka, mereka akan menggambarkannya seperti surga, atau secara ringkas mereka akan menyebut, “rumahku surgaku.” Tahun-tahun inilah yang sering disebut sebagai masa bulan madu, atau agar tidak menimbulkan salah pengertian, saya sebut saja sebagai masa kemesraan awal dalam perkawinan, yang merupakan masa paling indah dalam perkawinan. Tetapi ketika masa bulan madu atau masa kemesraan awal dalam perkawinan telah berlalu, segalanya segera berubah total. Peperangan demi peperangan sering berlangsung diantara pasangan tersebut, mulai dari perang mulut hingga perang bintang, dimana piring terbang berkeliaran dimana-mana. Rumah tangga yang semula oleh pasangan tersebut dirasa sebagai surga, tiba-tiba berubah menjadi neraka. Dalam keadaan demikian, masing-masing pasangan mulai merasa bahwa mereka telah salah dalam memilih pasangan.

“Ternyata dia menipuku. Dulu dia tidak begitu, kenapa sekarang jadi berubah? Ternyata saya telah salah dalam memilih pasangan.” Demikian keluhan yang sering kita dengar dari pasangan yang sedang mengalami masa paska kemesraan awal perkawinan. Apakah benar mereka telah salah dalam memilih pasangan? Walaupun saat itu realitasnya mereka saling merasa tidak cocok, saling merasa mendapat pasangan yang salah, tetapi jawabnya adalah: “belum tentu.” Bahkan, biasanya mereka tidak salah memilih pasangan. Yang sering terjadi adalah bahwa yang salah bukan pasangan mereka, tetapi cara pandang mereka atas pasangan mereka, cara mereka mensikapi pasangan mereka. Mereka sering melihat bahwa pasangan mereka telah berubah, tetapi yang sering terjadi sesungguhnya cara mereka memandang pasangan mereka dan cara mereka memandang hubungan merekalah yang salah.

Manusia adalah mahluk yang unik, tidak ada dua manusia yang cocok atau sama. Kalau sebuah perkawinan bisa berlangsung hingga masing-masing meninggal dunia, yang sering disebut secara salah sebagai perkawinan yang abadi, sebetulnya bukan karena mereka cocok, atau yang sering disebut sebagai telah menjadi jodohnya, tetapi lebih karena mereka saling mencocokkan diri, saling menyesuaikan diri. Setiap perkawinan pasti mengalami tahun-tahun panas, tahun-tahun perang, walaupun tidak selalu dalam bentuk perang bintang, mengalami tahun-tahun buruk, walaupun tidak selalu merupakan tahun-tahun neraka. Mereka yang mampu mempertahankan perkawinan mereka adalah mereka yang memang berniat untuk mempertahankannya, karena itu mereka berupaya keras untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangga mereka dengan sebaik-baiknya.

Ada dua hal yang menyebabkan orang merasa salah memilih pasangan ketika masa paska kemesraan awal perkawinan telah lewat. Yang pertama, pada masa pacaran dan masa awal perkawinan, masing-masing dari pasangan tersebut masih belum membuka diri secara total. Banyak orang yang mengistilahkan, masing-masing masih memakai kedok. Dihadapan pacar kita, walaupun biasanya kita sering bertindak kasar, kita akan berusaha untuk bertindak lembut. Walaupun saya tidak suka makan bakso, tetapi karena pacar saya suka makan bakso, maka saya berusaha untuk menyukai bakso. Walaupun biasanya saya sering alpa memperhatikan orang lain, tetapi didepan pacar saya, saya menjadi orang yang penuh perhatian. Ketika pacar saya tersandung dan sepatunya terlepas, maka saya akan cepat-cepat mengambilkan sepatunya, dan memakaikan dikakinya sambil membersihkan kakinya dan bertanya, apakah kakinya sakit?

Berbagai tindakan sok perhatian tersebut mungkin masih kita lakukan dalam waktu satu atau dua tahun masa perkawinan, walaupun biasanya sedikit demi sedikit mulai berubah, mulai menampakkan wujud aslinya. Biasanya, pada tahun pertama atau kedua, kita masih berusaha mempertahankan kedok kita, walaupun sedikit demi sedikit telah mulai kita lepaskan. Karena itu, masa-masa tahun bulan madu atau masa-masa kemesraan awal, belum terjadi peperangan, apalagi perang bintang.

Yang kedua, ketika berpacaran dengan seseorang yang kita cintai, dan pasangan kita juga merasa mencintai kita, sesungguhnya kita sedang dalam kondisi mabuk. Kesadaran kita tidak terkendali dengan penuh. Karena itu, orang sering menyebutnya sebagai mabuk cinta. Sementara itu, mabuk cinta sering membuat kita buta. Bahkan ada yang menyamakan mabuk cinta dengan mabuk narkotik, yang selain sama-sama mabuknya, juga waktunya tidak lama.

Dalam keadaan mabuk cinta ini pandangan kita terhadap pacar atau isteri kita (masa awal perkawinan) menjadi sangat berbeda dengan saat kita tidak sedang dimabuk cinta. Hal-hal yang biasanya kita anggap jelek, yang tidak kita senangi, menjadi terasa indah dan menyenangkan. Kebodohan dirasa sebagai kelucuan yang menyenangkan, tindakan yang agak kasar dianggap sebagai keterus terangan, ketidak sopanan dilihat sebagai bentuk kebebasan. Pokoknya, semua yang jelek menjadi terlihat baik, bahkan indah. Orang Jawa mempunyai ungkapan mengenai masa ini, yang berbunyi: “wingko katon kencono,” yang berarti potongan tembikar tampak seperti emas. Potongan tembikar yang sesungguhnya tidak berharga, karena tampak seperti emas, maka menjadi sangat berharga. Tetapi, ketika masa mabuk cinta telah berlalu, yang tembikar tidak lagi kelihatan seperti emas, tetapi telah berubah menjadi potongan tembikar. Bahkan ketika genderang perang mulai ditabuh, apalagi perang bintang telah dimulai, yang terjadi malah sebaliknya, kencono katon wingko, yang artinya emas menjadi kelihatan seperti potongan tembikar. Artinya, yang jelek menjadi kelihatan baik dan indah.

Sampai disini Nampak bahwa yang berubah sebetulnya bukan pasangan kita, tetapi cara kita memandang pasangan kita, sikapnya, tindakannya, bahkan cara berpakaiannya, dan sebagainya. Tentu saja pasangan kita, sebagaimana juga kita, mengalami perubahan, baik karena kita masing-masing mulai membuka kedok kita, maupun karena kita memang berubah, karena tidak ada orang yang tidak berubah. Didunia ini, satu-satunya yang tidak berubah hanyalah perubahan itu sendiri.

Hanya dengan menyadari semua ini, maka perkawinan bisa dipertahankan. Pada masa ini, yang terpenting adalah niat kita, apakah kita betul-betul berniat untuk memperbaiki perkawinan kita atau tidak. Karena hanya berdasarkan niat inilah kita bisa menyelesaikan berbagai permasalahan dengan baik. Kalau niat kita memang sudah tidak menginginkan untuk mempertahankan perkawinan kita, maka bisa dipastikan kita tidak akan berusaha untuk memperbaiki kondisi yang memburuk tersebut, bahkan kita semakin didorong untuk melihat hal-hal buruk dari pasangan kita, dan menghilangkan hal-hal yang baik dari dirinya. Padahal, kalau kita mau menguji kekurangan orang lain (dan juga diri kita) bisa dipastikan satu truk tronton tidak akan cukup untuk mewadahinya. Bagaimana dengan kita? Bagaimana niat kita?